Tuan Rumah Asian Games 2018 dari Buah Reformasi

Tahun 2018 dapat disebut tahun olahraga yang bakal dicatat dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia karena di tahun inilah Indonesia akan menggelar Asian Games, pesta olahraga terbesar se-Asia.

Kesempatan untuk bisa menggelar Asian Games merupakan hal yang langka karena selain harus merasa sudah siap dan berani untuk menyelenggarakan event besar tersebut, juga harus mendapat kepercayaan dari komunitas olahraga Asia bahwa Indonesia memang layak untuk dipilih.

Indonesia pertama kali menjadi tuan rumah Asian Games pada tahun 1962 atau 56 tahun silam, di masa kepemimpinan Presiden Soekarno. Dan kini setelah melalui beberapa kali pergantian kepemimpinan hingga memasuki era reformasi, ditandai dengan runtuhnya rezim Orde Baru tahun 1998, Indonesia kembali mendapat kesempatan langka untuk menggelar Asian Games.

Wapres Jusuf Kalla selaku ketua tim pengarah Asian Games 2018 sudah mencanangkan target sukses penyelenggaraan dan juga sukses prestasi olahraga nasional. Indonesia ditargetkan bisa masuk peringkat 10 besar dalam Asian Games di negeri sendiri.

Menjelang pelaksanaan Asian Games yang tinggal kurang dari tiga bulan lagi, selayaknya jika ada sejumlah catatan prestasi olahraga yang bisa dibanggakan di tahun ini, untuk menegaskan bahwa olahraga Indonesia sedang bangkit dan mampu meraih target 10 besar Asia.

Sayangnya belum banyak momen-momen prestasi olahraga yang bisa membanggakan menjelang Asian Games 2018. Bahkan jika ditarik lagi ke belakang, dalam dua dekade terakhir, atau 20 tahun berjalannya era reformasi sejak 1998, lebih banyak kabar mengenai kegagalan dan penurunan prestasi olahraga Indonesia di tingkat dunia.

Pada Asian Games, sejak meraih peringkat kedua pada 1962, peringkat terbaik yang pernah dicapai olahraga Indonesia adalah urutan keenam di Bangkok tahun 1966 dan New Delhi 1982. Selanjutnya Indonesia terus terlempar dari 10 besar Asia, dan terakhir di Asian Games Incheon 2014 kontingen Merah-Putih harus puas di peringkat umum ke-17.

Di tingkat Asia Tenggara, pada perhelatan SEA Games, Indonesia sulit menduduki peringkat umum teratas, kecuali pada saat menjadi tuan rumah di tahun 2011.

Selebihnya, Indonesia harus mengakui kemajuan olahraga yang dicapai negara tetangga. Terakhir pada SEA Games 2017 di Kuala Lumpur, Indonesia bahkan terpuruk di urutan kelima, di bawah Malaysia, Thailand, Vietnam dan Singapura.

Pada cabang paling populer, sepak bola, di era reformasi ini pun tidak banyak catatan prestasi emas yang bisa dibanggakan dalam 20 tahun terakhir, kecuali keberhasilan timnas U-19 menjuarai Piala AFF 2014.

Idealnya, dengan semakin banyaknya fasilitas pendukung olahraga yang dibangun di era reformasi ini, seharusnya juga bisa mencetak atlet-atlet yang prestasinya lebih bagus dibanding era sebelumnya.

Bulu Tangkis

Cabang bulu tangkis mungkin bisa menjadi penghibur jika berbicara soal prestasi olahraga Indonesia di era reformasi, meskipun banyak terjadi pasang surut untuk mengembalikan supremasi dunia.

Setidaknya, sejak Olimpiade Barcelona 1992 dan Atlanta 1996, cabang bulu tangkis dalam 20 tahun terakhir dapat mempertahankan tradisi medali emas di Olimpiade Sydney 2000, Athena 2004, Beijing 2008 dan Rio de Janeiro 2016.

Namun persaingan ketat dalam perbulutangkisan dunia membuat Indonesia tidak bisa lagi mendominasi cabang olahraga ini.

Salah satunya adalah kejuaraan Piala Thomas, yang disebut sebagai barometer kekuatan suatu negara pada cabang bulu tangkis beregu putra dunia.

Indonesia sudah 13 kali meraih trofi Piala Thomas, terakhir tahun 2002. Setelah itu tim bulu tangkis putra Indonesia sulit untuk bisa meraih kembali lambang supremasi tersebut.

Tahun ini, pada Piala Thomas yang digelar di Bangkok, Thailand, 20-27 Mei, Indonesia kembali mencoba bangkit untuk meraih juara, setelah pada dua tahun lalu hanya menjadi finalis.

PBSI sendiri sudah mencanangkan target bagi tim bulu tangkis putra Indonesia tahun ini, yakni meraih kembali trofi Piala Thomas yang sudah 16 tahun berada di negara lain.

Hari Minggu, 20 Mei, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, Kevin Sanjaya/Marcus Gideon dan kawan-kawan akan memulai pertandingan pertama Piala Thomas melawan Kanada.

Selain dari cabang bulu tangkis yang terbilang masih bisa menjaga prestasi di level atas dunia, masyarakat Indonesia tampaknya harus sabar menunggu “buah reformasi” yang berwujud prestasi atlet di berbagai bidang olahraga.

Berbagai perubahan seiring bergulirnya era reformasi tersebut dijalankan seperti diterbitkannya Undang-Undang Sistem Keolahragaan Nasional tahun 2005, serta upaya pembenahan berupa penegakkan supremasi hukum, dan membangun birokrasi yang bersih dan bebas KKN yang juga bisa diterapkan dalam pengelolaan olahraga.

Menjelang pelaksanaan Asian Games 2018, semangat reformasi birokrasi di bidang olahraga juga terus ditegakkan. Di antaranya yang dilakukan Kemenpora yakni memangkas birokrasi yang selama ini menjadi kendala bagi pembinaan cabang-cabang olahraga. Pengelola cabang olahraga kini bisa langsung mendapat dana bantuan dari pemerintah untuk menjalankan pelatnas Asian Games tanpa melalui birokrasi yang berbelit.

“Birokrasi harus lebih fleksibel dan terbuka, pemerintah tetap berkomitmen untuk memangkas birokrasi organisasi olahraga di Indonesia menyusul rencana penghapusan Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima),” kata Menpora Imam Nahrawi terkait penghapusan salah satu unit di kementeriannya beberapa waktu lalu, yang bertujuan untuk mempermudah pengurusan pendanaan bagi cabang-cabang olahraga yang disiapkan untuk Asian Games 2018.

Kemudian dalam penegakan hukum, panitia penyelenggara Asian Games 2018 (INASGOC), seperti dikemuakan ketua umum Erick Thohir, telah menyatakan tekad untuk menerapkan administrasi yang bersih dari korupsi.

“Kami telah menggandeng pihak TP4P Kejaksaan Agung dalam pengadaan barang dan jasa di INASGOC. Hal ini tak lain demi menjaga akuntabilitas dan transparansi,” ujar Erick Thohir.

Pada Asian Games ke-18 di Jakarta dan Palembang pada 18 Agustus hingga 2 September mendatang, diharapkan buah kerja keras di era reformasi ini dapat dipetik, berupa penyelenggaraan yang sukses, keberlanjutan manfaat ekonomi yang bisa dirasakan masyarakat, dan tentunya kebanggaan jika para atlet Indonesia berhasil meraih juara.