Pungli Tempat Wisata di Subang Jadi Sorotan Publik

Keluhan para pengunjung tempat wisata dari berbagai daerah yang menyebut bahwa banyaknya pungutan liar di tempat wisata yang berada di Kabupaten Subang harus disikapi serius oleh pemerintah daerah.

Keluhan yang muncul dari pengunjung, baik dari Subang maupun luar daerah merupakan bentuk gagalnya pemerintah daerah dalam mengembangkan parwisata di Subang.

Hampir setiap tahun keluhan pengunjung selalu muncul. Namun selalu dibiarkan, lama kelamaan tentunya ini akan menjadi preseden buruk bagi Subang dimata para pelancong. Subang bisa menjadi daerah tak ramah wisatawan.

Di media sosial, dalam beberapa grup banyak postingan yang menggambarkan betapa buruknya pengelolaan tempat wisata di Subang. Mulai dari biaya parkir yang melambung tinggi, sampai pungutan yang tidak masuk akal lainnya yang terkesan diada-ada.

“Kita terima kalau biaya masuk naik, karena memang kalau lebaran biasanya begitu. Nah, yang jadi masalah di Subang itu ada biaya-biaya lain yang tak masuk akal,” kata salah satu pelancong Rohmat saat ditemui didaerah Subang Utara, Minggu (17/6/2018).

Rohmat menceritakan pengalaman buruknya saat menghabiskan libur lebaran tahun ini. Dari mulai harus bayar karcis parkir beberapa kali, sampai harus menambah biaya karcis masuk dua kali lipat.

“Kita liburan di pantai yang ada di Subang, aneh didepan sudah ada yang pinta karcis dan biaya parkir, tapi pas masuk areal wisata ada yang pinta lagi. Pengeolaannya buruk sekali,” kata Rohmat yang merupakan warga luar Subang itu.

Tidak hanya tempat wisata di wilayah Subang Utara yang banyak dikeluhkan, tempat wissata yang berada di Subang Selatan juga sama. Hampir rata-rata pengunjung mengeluh biaya parkir yang membumbung terlalu tinggi. Bahkan lebih tinggi dari harga karcis masuk.

“Ini sudah menjadi aji mumpung setiap libur lebaran. Harga karcis naik, parkir juga demikian. Kalau di Subang ya begini,” kata warga Kecamatan Ciater, Subang Sujana.

Sujana merasa sejumlah foto karcis masuk dan parkir dibeberapa tempat wisata yang diunggah ke media sosial oleh para pengunjung merupakan hal yang biasa. “Biasa itumah, di Subang Selatan, obyek wisata disini naikin tarif gila-gilaan. Namanya juga aji mumpung,” katanya.

Ketua Kelompok Penggerak Parawisata (Kompepar) Kabupaten Subang Asep Saevata mengatakan banyaknya pungutan di tempat wisata merupakan ulah oknum. “Tentunya itu ulah oknum,” kata Asep.

Asep yang akrab disapa Alam Randjatan itu mengatakan selama ini pihak Kompepar selalau mewanti-wanti kepada pengelola obyek wisata untuk tidak menaikan tarif terlalu tinggi saat musim liburan.

“Kita selalu mewanti-wanti pengelola, terutama menghadapi hari raya, agar tidak menaikan tarif mahal-mahal, termasuk tarif parkir kendaraan,” katanya.

Untuk jajanan diareah dan sekitar obyek wisatapun, saat ini sudah diseragamkan. Hal tersebut tentunya untuk membuat para wisawan yang berkunjung ke Subang merasa nyaman dan betah berlama-lama di Subang.

“Iya, tarif jajanan kita sudah koordinasi dengan para penjual untuk diseragamkan dan harus memakai label, tentunya agar pengunjung betah dan balik lagi ke Subang,” pungkas Alam.

Kegaduhan soal pungutan liar di tempat wisata yang berada di Subang ini tentunya menjadi pekerjaan rumah pemerintah daerah, dan dinas terkait yaitu Dinas Pariwisata Pemuda dan Olehraga (Disparpora).