Pemuda Pancasila Subang Harus Menjadi Pelopor dalam Berbudaya

SUBANG – Budaya menjadi salah satu hal penting untuk meningkatkan kualitas diri. Oleh karena itu, harus ada dukungan yang serius dari pemerintah untuk terus melestarikan budaya.

Hal tersebut diungkapkan Tokoh Seni dan Budaya Subang, Bah Dasep saat menghadiri pelantikan 8 PAC Pemuda Pancasila Kabupaten yang dilaksanakan di Lapanga Sepak Bola Kasomalang, Subang, Senin (18/3/2019).

Menurut Bah Dasep, berbicara tentang budaya tentunya tidak terlepas dari adanya dukungan dari berbagi pihak, terutama pemeirntah.

Sejauh ini peran pemerintah dalam melestarikan seni dan budaya yang ada di Kabupaten Subang dinilai tidak maksimal.

“Kita berharap perhelatan seni dan budaya dari Subang bakal lebih baik lagi kedepannya. Apalagi dengan kehadiran Pemuda Pancasila, ormas yang besar yang bisa menjadi pelopor kebudayaan,” kata Bah Dasep.

Seni dan budaya menurut Bah Dasep akan membuat manusia memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Tentunya jika diprogram dengan baik.

“Budaya bisa untuk meningkatkan kualitas diri. Bagian dari kebudayaan meningkatkan diri. Kalau itu sudah melekat, kesenian akan lebih dihargai. Abah ingin tahu sampai dimana komitmen pemerintah sebagai pembina seni dan budaya di Subang,” katanya.

Kekayaan yang dimiliki oleh Subang bisa dibilang masih utuh. Ada sekitar 60-70 persen kebudayaan ada di Subang.

“Kita berharap bahwa di Pemuda Pancasila sudah menjadi tekad paling depan dalam budaya. Kata orang Sundanya, nanjerken seni dan budaya. Maka dari itu program di Pemuda Pancasila bagaimana caranya agar budaya itu bisa bersinergi dengan masyarakat,” katanya.

Ketua MPC Pemuda Pancasila Subang H. Endang Kosasih sangat mengapresiasi keinginan salah satu tokoh budaya dan sesepuh Subang ini.

“Budaya itu seperti tadi saya sampaikan, tanamkan kebaikan, itu budaya yang saya sampaikan bagian dari etika. Kita mendidik masyarakat dan mencerdaskan masyarakat itu adalah budaya. Jadi untuk mengarahkan manusia kepada teknologi itu juga budaya,” kata H. Endang.

Mungkin pemerintah yang tidak konsen dengan urusan-urusan bagaimana utuk menyelamatkan budaya dan mengimplementasikan budaya, harus diingatkan kembali.

“Harusnya disuport oleh pemerintah. Jika pemerintah jeli, lihat saja sekarang banyak demo. Budaya ini yang harus ditangkap oleh pemerintah, berarti itu ada persoalan, ketika demonya tidak beretika dan bermoral. Ini ada apa? Seharusnya dicari permasalahan nya apa. Ini yang harus pemerintah turun. Budaya ini yang tidak disadari oleh pemerintah,” katanya.

Seharusnya pemerintah itu juga mau mengakomodir semua persoalan yang ada di wilayahnya masing-masing. “Seperti budaya di Subang yang punya tangan besi untuk melestarikannya adalah pemerintah. Jadi kalau dibiarkan akan sangat ironis,” pungkasnya.