Dalam Setahun, 30 TKI Pulang Tinggal Nama

Banyaknya warga Subang yang ingin mengadu nasib di negara orang, membuat mereka berani menjadi buruh migran atau Tenaga Kerja Indonesia (TKI), baik melalui jalur resmi maupun secara ilagal.

Banyak diantara warga Subang malahan memilih jalur tidak resmi atau ilegal. Akibatnya pemerintah sulit melakukan tindakan jika dikemudian hari terjadi masalah, mengingat mereka yang melalui jalur ilegal tidak tercatat di Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertras) Subang.

Namun walapun tidak tercatat, pemerintah selalu berusaha untuk memberikan perlindungan kepada TKI yang bermasalah saat bekerja di luar negeri. Selain itu, bagi TKI yang meninggalpun, pemerintah selalu hadir.

“Sebagai warga negara para TKI akan kita lindungi, namun kalau untuk yang ilegal tentunya prosesnya panjang, karena mereka bekerja tidak melalui jalur resmi,” kata Kasi Pembinaan dan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Disnakertrans Kabupaten Subang, H. Indra Suparman SH.

Indra mencatat, sejak Agutus 2017 hingga Agutus 2018 Disnakertrans telah memulangkan 30 orang jenazah TKI asal Subang. Selain TKI yang meninggal, Disnakertrans juga relah berhasil memulangkan 250 TKI yang bermasalah saat bekerja.

“Iya, untuk yang meninggal dunia sebanyak 98 persennya adalah ilegal. Jadi hanya 2 TKI yang terdaftar secara resmi. Sedangkan untuk TKI yang masih hidup, mereka juga kita bantu proses pemulangannya,” katanya.

Untuk TKI yang masih hidup, Indra menyebut bahwa merreka sudah dalam kondisi cacat, sakit maupun stres dan dengan berbagai masalah seperti overstay dan masalah lainnya selama kurun waktu satu tahun.

Untuk TKI yang masih hidup, selain dibantu proses pemulangannya, pemerintah juga berupaya memperjuangkan hak-haknya. “Selama ada pengaduan dan laporan dari pihak keluarganya maupun media sosial kita perjuangkan hak-haknya,” pungkas Indra.